As an architecture student I've met a lot of people who can draw much better than me. They got the real talent of drawing. They draw fast, undistorted, even with limited color palettes they can make it astonishing.

Then I realized that drawing is not about proportion, balance, vanishing point, color combination, or similar things that I learn in university, drawing is also a skill not merely a talent. And just like any other skill, it needs practice. And I chose to believe that the first thing I had to do is just being brave to see my surrounding and documenting them as a form of drawing. It'll take years to improve, and we'll see...


Human is an adaptive creatures, and it's amazing how people do something to their house despite the limitation. 


He sold this one just a month ago. I'm so sad. My favourite shoes among his collection. So I was lucky to have this sketches.

I was bored. So yeah... even it's distorted everywhere.



One of some unique houses in Kampung Arab. Walked here writing a report for a student magazine. Thank you for Mba Inas who accompanied me. I was forced to finish this drawing faster because it started raining.

My campus library at night. 



A scene from my favourite music video by NONONO. I fell in love with the guy's sweater and the rabbit he carried. Not sure until now what was the video about. But I can can tell that this guy was having a tough time and he danced his problems away, inside a coffee shop, or above a rocky mountain  facing the sea after sunrise. Beautiful. Somehow I wish I was him.


Alhamdulillah semester dua ini luar biasa. Kontradiktif dengan semester pertama : menyenangkan dan somehow terasa bebas. Hahaha. Bukan berarti semester satu nggak nyenengin sih, but the beginning is always hard.

Salah satu pengalaman yang nggak terlupakan adalah jadi salah satu bagian dari ITS Expo. Haha. Walaupun capek banget, tapi seneng banget pake Z : bangetz. Entah kebetulan teman-temannya asyik-asyik, atau karena kerjaannya banyak tp orangnnya dikit jadi bisa begini.

Awal mau daftar galau banget, ikut ga ya, ikut ga ya. Waktu itu oprecnya pas semester satu akhir. Yang bikin galau kalau misal pas semester dua nanti belom diangkat dan masih sibuk ini itu terus gimana ngatur waktunya. Sekarang ketika kuliah saya juga nggak secuek dulu waktu jaman SMA masalah tugas, soalnya ya karena saya suka sama kuliahnya, makanya ada perasaan kudu ngasih lebih dibanding dulu. Disisi lain saya pingin banget ikut, mungkin karena sudah setahunan nggak ikut kepanitiaan, jadi kangen gitu.  dan entahlah poster oprecnya yang eye-catching itu kayak manggil-mangil "udahlah em ikut ini aja". wkwkwk

Tapi berkat sosialisasi ke seorang senior dan tanya-tanya akhirnya saya memberanikan diri untuk daftar. Surprisingly, dari jurusan saya cuma dua orang yang daftar. Saya sama Mede, dulu teman sekelas SMA juga. Agak ketar ketir waktu seleksi, kalau salah satu diantara kita gugur berarti sendirian dong. Eh alhamdulillah nggak, kami lolos. Walaupun kami di sie yang berbeda tapi gaapalah ada teman.

Di expo ini saya memang sengaja nggak milih sie andalan saya jaman SMA : sie pubdok; publikasi dokumentasi. Pas ngirim CV pengalaman kepanitiaan isinya sie pubdok terus cuma beda acara. Sampai males nulis semuanya karena hampir sama kerjaannya. Dan... akhirnya saya ketrima di sie sub-acara Workshop Seni. Alasannya kenapa milih ini simpel banget sih, karena saya suka handycraft gitu jadi ya kali aja bisa sekalian curi-curi ilmu. Hahaha

Tapi ternyata saya ngerasain bahwa ilmu buat bikin handycraft macem-macem banyak di internet, buku-buku, les, semua itu bisa dibeli, tapi pengalaman nyiapin ini semua nggak bakal bisa dibeli. Beberapa kali saya keluar ketemu seniman sama temen-temen buat diajak ngisi acara kami. Ketemu orang baru yang macem-macem, kudu berani ngomong, negosiasi. Pokoknya kerjaan kali ini beda bangetlah.

Selain kerjaannya yang beda, alhamdulillah teman-teman yang nyenengin dan mesti bikin ngakak yang bikin semua ini tambah unforgettable. And I'm kinda missing them that's why I'm writing this to reconcile my memories with them #alah

Mas Didit
Koor kami. Anak informatika, dulu sempet pingin jadi arsitek, mungkin karena itu kalau disuruh bikin gambar gitu jadinya rapih. Sempet sakit cukup berat waktu persiapan, jadi kudu istirahat ga bisa ikutan rapat-rapat. Tapi karena kami anak pintar, jadi semuanya tetap berjalan. Hahaha. Orangnya kalem, kadang galau di twitter, makanya sering digombalin.

Mbak Riri
Temennya Mas Didit, turun tangan banyak waktu Mas Didit sakit. Anak informatika juga, asalnya dari Bekasi. Orangnya sibuk banget, ikut ini itu, tapi mensugesti kalau dia nggak sibuk. hahaha. Lumayan cerewet, dan mungkin gara-gara itu dipanggil Bos Riri sama Bagas yang akhirnya bikin kami semua ikutan. Gitu-gitu orangnya asyik pul dan suka membangun kekeluargaan. Tsah

Mas Fajar
One of a kind mas-mas teknik mesin. Pokoknya beda banget lah sama mas-mas teknik mesin yang ada di bayangan dari SMA, yang garang, serem gitu. Wakakak. Orangnya kalem, anak Bogor, dan kebetulan hari ini ulang tahun. Pibesdey Mas!

Arizal
Anak mesin juga. Anak Malang, satu SMA sama temen-temen deket di jurusan. Orangnya nggak kalem, tapi nggak rame banget juga. Hahaha

Ubaid
Anak Teknik Elektro. Cinta jurusan pake banget. Victory!
Orangnya kalem, dan katanya pinter banget, tapi ngakunya biasa aja, bisalah orang pinter. Anak Gresik.

Widya
Anak tekkim, SMA di Malang, tapi asli Tuban. Orangnya kalem tapi kalau ketawa ngakak lucu banget hahaha. Widya ini orangnya ngemong banget, ngayomi, dan selalu bersemangat! Yay!

Bagas
Anak teknik kelautan. Konyol abis sumpah. Yang suka bikin ngakak ya dia ini. Dari palembang tapi SMA di Sumedang. Bagas ini pinter manjat pohon :D

Lita
Anak kelautan juga. Pinter gombal. Gombalnya bikin ngakak. Walaupun expo selesai, sering banget ketemu Lita soalnya setiap hari Jum'at mesti makan siang di depan jurusan. Lita ini anak Surabaya, sama kayak saya, dan akhirnya jadi temen curhat :p

Dan terakhir namun berjasa
Mas Aryak, ga ada fotonya tapi. Konseptor Workshop Seni. Orang Surabaya.
Yang bikin kaget dulu senior saya pas SMP. Hahaha. Mas-mas jurusan (masih) tetangga, teknik Lingkungan. Mas aryak ini orangnya nggak kalem, dan cenderung unik.


Dari kiri ke kanan. Atas: Bagas, Mas Fajar, Widya, Lita, Mbak Riri, Aku, Mas Didit. Bawah: Ubaid, Arizal
Well that's all. Ga kerasa sudah subuh. Akhirnya tidur pagi lagi semenjak liburan. Ngomong-ngomong di 3 minggu terakhir kuliah saya hampir tidur pagi terus setiap hari. Hahaha. Hidup nocturnal beneran.


Hai, ini dia sketch journal saya yang kedua. Sekarang ukurannya lebih besaran, A5. Dan sepertinya akan bertahan tetap di ukuran yang sama untuk kedepannya. 

Skech book yang saya pake juga berbeda. Kali ini saya make sketchbook punya Winsor & Newton yang pas dihati banget. Rasanya waktu liat di toko buku langsung mbatin, "ah here's the one." Ecieeh. Kovernya hitam polos, klasik abis. Saya memang pingin yang begini sejak lama. Sedangkan untuk kover belakang ada tulisan Winsor & Newton warna emas dibawah.

Sayangnya sekalipun yang pas di hati, tetep aja punya kekurangan. Untuk sketchbook saya yang satu ini, kekurangannya ada dua. Yang pertama jilidannya sudah lepas, termasuk fatal buat sebuah buku. Yang lepas kovernya aja sih, tapi untung bagian dalamnya tidak tercerai berai, jangan sampelah. Mungkin karena keseringan dibawa kemana-mana yang tergencet di dalam tas kuliah saya bersama barang-barang yang lain makanya jadi lepas. Yang kedua, kalau di scan di bagian lipatan buku ada hitam-hitamnnya. Sebenernya ga masalah sih kalau gambarnya di tengah, tapi ada gambar yang butuh space banyak yang akhirnya mau ga mau gambarnya kudu mepet.


halaman pertama. 17 Januari 2013 itu tanggal belinya.

Ini maksudnya sketsa desain naungan. Bukan cowok yang mau deketin cewek yang lagi galau.
Barusan nyadar kalau sepintas keliatan kayak gitu --a
Dalam gambar arsitektur, manusia digunakan di dalam gambar untuk skala perbandingan. Seberapa besar sih bangunannya. 




Jadi intinya kalau mau ke kantin pusat dan sekitarnya, daripada lewat parkiran BAAK, 
lebih efektif kalau lewat masjid.

Buat saya, rektorat paling enak dilihat dari selasar di dekat UPMS. Kayak tugas pertama KomArs salah seorang teman saya namanya Sofi. Sedikit susah njelasinnya, yah pokoknya disitu. Tapi sayangnya waktu itu saya lagi duduk-duduk di selasar perpus dan yaudah gambar dari situ aja. Hehe 

Teori "Cewek Cantik" yang lucu tapi rese, dan berlaku juga buat teori cowok ganteng.
Dan kata teman-teman yang liat gambar ini, harusnya ada teori nomor empat. Yang cantik tapi ga mau sama yang bikin teori. Hahaha

Sekian part 1-nya. Sampai sekarang skecthbook saya belom habis, masih 3/5 keiisi, dan masih ada sketsa-sketsa yang belom dipublish. Zai jian!


Yak, ini dia sketch journal saya yang pertama, bagian part kedua, dan terakhir. Sengaja dibikin dua part biar nggak kepanjangan kalau dijadikan satu post. 


Gambar yang ini sesuai judulnya nyeritain gimana saya pergi ke kampus. Cuma satu bulan pertama tapi. Hahaha. Nggak praktis soalnya, apalagi waktu kuliah udah padet-padetnya. Akhirnya sekarang saya ke kampus naik ojek motor langganan, tinggal telpon dan lewat jalur warna merah yang digambar. Haha



Kalau gambar yang satu ini (yang di titik-titik merah) nunjukkin gimana saya harus jalan supaya bisa naik bemo O. Serius deh, KAMPUS INI BUTUH BIS ATAU SEPEDA UMUM. Gedee buanget. Kasian mahasiswa yang ga punya transport, kayak saya, dan karena waktu awal-awal masih sungkan minta nebeng, jadi harus jalan jauh deh. Dan saya pernah ketemu temen anak FMIPA harus jalan kaki dari kosannya di keputih ke kampus :" Ya Allah, moga-moga IPmu bagus ya. Jadi inget guru eles saya juga harus jalan kaki, dulu. Dan buat kampus saya, saya tunggu sepeda umumnya (soalnya katanya mau disediakan)

Sedikit off topic, saking gedenya saya pingin jalan-jalan mblusuk-mblusuk di dalem kampus sendiri. Whehehe. Masih penasaran nih. FTSP sudah tamat saya keliling, fakultas sendiri sih. FMIPA sudah pernah sama Quro :D, FTI, FTK belum pernah. FTIf kurang tertarik. Hahaha. Sepurane lho ya, bukan gimana-gimana kayaknya gedungnya satu aja gitu haha. Walaupun gedung satu itu gede sih. Hehe


Kalau yang diatas ini juga punya banyak cerita. Jadi salah satu tugas pertama di mata kuliah komunikasi arsitektur adalah menggambar bangunan yang ada di kampus. Akhirnya setelah berputar-putar bersama teman saya, Rista, saya akhirnya menjatuhkan pilihan di Gedung SAC, Student Advisory Center, nggak tau kenapa suka aja. Sebenarnya tugasnya adalah menggambar gedung di kampus di kertas A3 dengan teknik pensil. Tapi waktu gambar on the spot rasanya langsung blank aja gitu kalau langsung gambar di A3, jadi saya gambar dulu di sketchbook saya yang ukurannya cuma A6. Ini murni ga pake garis bantu perspektif, distorsi kabeh, makanya waktu saya jadiin DP BBM ada yang bilang, "Kalau gitu paling cuma dapat 60an" Tapi setelah mengalami sendiri. It should be worse. Distorsinya buanyak buangeeet. Haha. Pada akhirnya ketika saya mengerjakan di rumah ukuran A3 dengan pake garis bantu perspektif, it's not that bad. Nilai pertama : 68. Hahaha. Not that bad lagi-lagi. Soalnya yang dapat 70 keatas cuma sepuluhan mungkin.




That's all for my first sketch journal. Tentu aja banyak halaman-halaman yang lain, tapi pada nggak layak di publish semua.

See you soon, fellas! :D


Sudah setengah tahun ini saya jadi punya kebiasaan baru semenjak saya baca dua buku unik yang isinya sketsa-sketsa dari berbagai macam orang yang suka gambar, judulnya An Illustrated Life by Danny Gregory sama Urban Sketching oleh Gabriel Campanario. Thanks buat beliau-beliau yang sudah menyusun buku sekeren itu, dan buat para artis yang rela gambarnya dimasukin di kedua buku itu. Ngomong-ngomong ada dua sketcher dari Indonesia loh yang ada di buku Urban Sketching

Sebenernya inti kedua buku itu sama yaitu mendorong kita supaya lebih menikmati hari-hari kita dengan menggambar. Cuma untuk di buku Urban Sketching lebih spesifik lagi yaitu menggambar keadaan disekitar kita, biasanya orang-orang atau gedung-gedung. Di buku itu juga dijelaskan apa yang dirasakan orang-orang setelah mempunyai kebiasaan itu. Ada yang buat cari ide, buat terapi kesedihan, macem-macemlah. Yang jelas dengan menggambar kesukaan mereka, nggak dibayang-bayangi oleh materi, mereka jadi lebih bisa menikmati hidup.

Akhirnya setengah tahun yang lalu, tepatnya waktu liburan menunggu masuk kuliah, saya membeli skectbook kecil, ukuran A6, dan mencoba untuk rutin menggambar. Dulu saya punya sketchbook, tapi ya seringnya cuma buat corat-coret ga jelas, dan kadang-kadang sketsa saya yang jadinya bagus malah bukan di sketchbook saya. Karena ukurannya kecil jadi enak dibawa kemana-mana. Ke kampus, ke mall, macem-macemlah. Tapi tentu aja saya nggak menggambar setiap saat. Saya juga masih malu banget kalau nggambar dan diliatin.

Biar fungsional dan nggak harus bawa apa-apa lagi skecthbook saya juga saya jadikan notes buat mencatat tugas, makanya sekarang sudah habis. Hehe. Waktu kuliah lagi sibuk-sibuknya saya hampir nggak gambar disini sama sekali, karena kuliah saya toh juga banyak nggambarnya. Hehehe

Tapi kerasa banget kok gambar disini dan ketika gambar waktu kuliah. Satunya nggambar karena memang lagi mood lagi pingin dan satunya lagi karena tuntutan. Ketika nggambar disini nggak usah pusing-pusing mikirin distorsi dan rendering, karena memang saya kurang ahli merender. Tapi saya tetep seneng banget kok sama kuliah saya
Cover Skethbook saya
Biar nggak bosen saya ngehias kover skecthbook saya pake scrapbook. Jangan salah bahan-bahan yang saya pake hampir semua bukan dari bahan scrap book, kayak gambar orang dan gedung itu saya ambil dari label tag suatu merek celana jeans yang dibeli adek saya, alasnya dari kertas packaging bunga scrapbooking, makanya diatas ada tulisannya 'Prima Flowers' hahaha. 





Gambar yang kiri digambar waktu kelas dua SMA dan lagi ulangan Fisika. Haha. Bandel, jangan ditiru. Waktu itu nggambar karena nggak bisa ngerjainnya. Yang kiri itu gambar tempelan cuma nggak keliatan pas di scan. Sedangkan yang sebelah kanan pas hari kedua kuliah, dan lagi matkul PA untuk pertama kalinya 
Sekarang saya sudah ganti skecth book, yang ukurannya lebih gede, A5. Covernya hitam polos. Klasik abis, jadi saya biarin kayak gitu.

Buat alat-alat menggambar di sketchbook, saya pake drawing pen snowman, ukurannya macem-macem, alat standar kuliah sih jadi punya banyak :p, tapi kebanyakan pakai 0.3 dan 0.5. Pensil F, kadang-kadang banget tapi, hampir semuanya langsung, makanya kadang elek. Waterbrush, ah alat ini keren banget deh, jadi bentuknya itu kayak bolpoin ujungnya kuas dan tintanya isinya air jadi air keluar otomatis, dan bisa direfill. Buat yang di SBY belinya di TGA Galaxy Mall. Sama yang terakhir cat air faber castell 12 warna, yang bentuknya kayak eye shadow. Jadi cat air kering. Ah ngerasa banget warnanya gitu-gitu aja karena keseringan nggambar pake banyak variasi warna. Hehehe

Sekian, Ditunggu ya Part Duanya!


Powered by Blogger.