Sulit dipercaya Senin besok saya sudah masuk kuliah. Saya menghabiskan seluruh masa liburan saya sebagai salah satu volunteer unit di kampus. Karena saya orang Surabaya jadinya sering dipanggil ke kampus, dan secara tidak disengaja dapat libur cuma seminggu, ya pas lebaran itu. Tapi entah karena liburnya cuma seminggu, atau gimana, Lebaran kemarin bener-bener one of the best I've ever had. Saya pergi ke Madura, sama Madiun, buat jalan-jalan sekaligus ketemu sanak saudara.


Akhir-akhir ini setiap kali di jurusan saya sering ditanya "PM kemana aja? kok nggak pernah kelihatan." Padahal saya setiap hari ngampus kok, ke gedung pas disebelah jurusan saya. Ehehehe. Beberapa kali waktu saya lagi di kantor terus jalan ke masjid buat sholat maghrib, saya denger suara ketawa anak-anak dari hima yang emang sebelahan sama rektorat. Dan itu bikin kangen banget buat bikin acara bareng teman-teman jurusan. Bantuin mereka. Tapi gimana lagi, sudah berkomitmen buat disini, dan nggak kuat juga kalau ndobel. 

Atau buat beberapa orang yang follow instagram saya banyak yang bilang, "PM asik deh jalan-jalan terus." Tapi saya toh cuma senyum-senyum aja. Buat orang-orang yang tahu, ada banyak keras dibalik sekedar jalan-jalan itu. Mengutip lagu 90an punya The Verve, "Cause it's a bittersweet symphony this life."

Kadang nggak cuma kerja keras aja, mental juga diasah banget. Cocok dan nggak cocok ketika kerja. Hal-hal simpel yang memicu semangat. Macem-macem banget lah. Kadang aku ngerasa liburan ini semacam akselerasi kehidupan to be a better person.

Kapan itu saya ngobrol sama salah seorang teman dekat saya via line, dia bilang kalau dia pingin punya usaha karena banyak temen-temen sekosannya yang punya usaha. Saya jadi ingat awal liburan saya punya plan buat bikin usaha notebook handmade, tapi akhirnya nggak jadi. Bahkan notebook buat semester depan, which means Senin besok, aja belom selese. 

Tapi saya nggak nyesel sama sekali sih. In the end, saya pun sadar. Ketika saya yakin sama apa yang saya kerjakan saat ini, kita nggak bakal iri sama apa yang orang lain dapetin dan nggak akan bingung-bingung lagi mau ngapain. Jadi inget, dulu belajar clay dari kelas 6 SD akhir, setiap weekend mesti eles, terus baru dapet duit dari hasil bikin clay pas SMA, sekarang sudah nggak bikin clay lagi. Hahaha. Dulu sering banget gagal kalau mau bikin apa-apa, beli sepatu buat di cat biar bagus tapi gagal, terus gamau pake sepatunya karena jelek. Dulu juga gagal bikin notebook sendiri (padahal sudah pede pake kertas canson) tapi sekarang sudah bisa, beberapa kali ngguntingin baju niatnya supaya bisa dimodif eh malah ngerusak, tapi sekarang sudah bisa njahit baju sendiri. Lucunya ya proses kehidupan, hal-hal yang awalnya dipikir buang-buang duit tapi ujung-ujungnya kalau ga pernah "buang-buang duit" itu saya juga ga akan bisa bikin macem-macem. Mhihihi. Sama juga kan ya kayak jatuh cinta, kalau ga pernah sakit ati banget juga ga bakal belajar. #alah

Salam hangat,

Dari jeep pas perjalanan ke Bromo (kiri ke kanan): Caroline dari China, Saya, Rizal orang Surabaya juga, anak Tekla, Lily dari Vietnam, Lee dari Malaysia, Addin dari Ethiopia. 


As an architecture student I've met a lot of people who can draw much better than me. They got the real talent of drawing. They draw fast, undistorted, even with limited color palettes they can make it astonishing.

Then I realized that drawing is not about proportion, balance, vanishing point, color combination, or similar things that I learn in university, drawing is also a skill not merely a talent. And just like any other skill, it needs practice. And I chose to believe that the first thing I had to do is just being brave to see my surrounding and documenting them as a form of drawing. It'll take years to improve, and we'll see...


Human is an adaptive creatures, and it's amazing how people do something to their house despite the limitation. 


He sold this one just a month ago. I'm so sad. My favourite shoes among his collection. So I was lucky to have this sketches.

I was bored. So yeah... even it's distorted everywhere.



One of some unique houses in Kampung Arab. Walked here writing a report for a student magazine. Thank you for Mba Inas who accompanied me. I was forced to finish this drawing faster because it started raining.

My campus library at night. 



A scene from my favourite music video by NONONO. I fell in love with the guy's sweater and the rabbit he carried. Not sure until now what was the video about. But I can can tell that this guy was having a tough time and he danced his problems away, inside a coffee shop, or above a rocky mountain  facing the sea after sunrise. Beautiful. Somehow I wish I was him.


Powered by Blogger.